Catatan Sejarah Syarekat Islam (Bag-1)
Pengantar :
Akar kesadaran politik umat Islam pada
masa modern di Indonesia adalah dengan bangkitnya SI (Syarekat Islam)
sebelum Perang Dunia I yang merupakan transformasi dari Sarekat Dagang
Islam (SDI). Lahirnya SDI bukanlah satu kebetulan dalam sejarah (an historical accident)
yang tidak dilatar belakangi oleh kesadaran yang dalam dan panjang.
Kelahiran SDI dapat dikatakan sebagai suatu keharusan sejarah (an historical necessity) bagi perjalanan politik umat Islam Indonesia.
Guna melengkapi wawasan sejarah umat Islam khususnya pergerakan Syarekat Islam yang oleh serba sejarah telah dimuat beberapa tulisan diantaranya : (1) Sang raja tanpa mahkota : hidup dan perjuangan HOS Tjokroaminoto (2) The Grand Old Man : Jalan Perjuangan H. Agus Salim (3) Cita Dasar Pergerakan Syarekat Islam dan (4) Pergerakan Sjarikat Islam sebagai Levend Organisme. Di bulan september ini dimana bulan bersejarah bagi Sjarikat Islam, Serba sejarah
mencoba menulis kembali beberapa catatan perjalanan pergerakan Sjarikat
Islam sebagai bahan bagi memahami dan menumbuhkan kesadaran akan arti
penting pendalaman sejarah bagi generasi kini dalam menatap masa depan. Semoga berkenan …
******************
Anggaran Dasar baru Syarekat Islam bagi
seluruh Indonesia disusun Tjokroaminoto, kemudian pada bulan september
1912 diajukan surat permohonan agar Sarekat Islam diakui kedudukannya
sebagai badan hukum.[3] Anggaran dasar baru menyebutkan bahwa tujuan
Sarekat Islam adalah memajukan semangat dagang bangsa, memajukan
kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama dan menghilangkan
faham-faham keliru mengenai agama Islam.[4]
Kehadiran Tjokroaminoto di SI merupakan
dimulainya babak baru dalam organisasi pergerakan Indonesia. Orientasi
gerakan berubah, dari orientasi sosial ekonomi menjadi organisasi yang
berorientasi sosial politik[5]. Perubahan nama dari SDI menjadi Sarekat Islam[6], merupakan indikasi transformasi organisasi dari yang berlatar belakang ekonomi kepada politik.[7]. SI sebagai gerakan politik pada sejak tahun 1912 juga dikemukakan oleh John Ingleson dalam ‘Jalan Kepengasingan’
yang menyatakan bahwa pada tahun 1912, ia merupakan partai poltik Islam
yang terkemuka dan selama beberapa tahun menjadi partai modern
satu-satunya pada masa kolonial[8].
Pada tanggal 26 Januari 1913, diadakan
Kongres I Sarekat Islam di Surabaya. Ribuan orang datang
berbondong-bondong, jalan-jalan menuju Taman Kota di mana kongres
diselenggarakan penuh sesak oleh orang. Ketua H. Samanhudi disambut
besar-besaran, di stasiun beliau disambut dengan korps musik dan
dibopong beramai-ramai menuju mobil jemputan. Menurut laporan Asisten
Residen Kepolisian pada tanggal 12 Pebruari, menyebutkan bahwa massa
yang hadir pada saat itu ditaksir antara delapan sampai sepuluh ribu
orang.[9]
Kongres tersebut dipimpin oleh Tjokroaminoto dan pada kongres itu beliau menyatakan bahwa Sarekat Islam bertujuan: “…Membangun
kebangsaan, mencari hak-hak kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh
Allah, menjunjung derajat yang masih rendah, memperbaiki nasib yang
masih jelek dengan jalan mencari tambahan kekayaan”.[10]
Kemudian pada tanggal 23 Maret tahun yang
sama, kongres ke II dilaksanakan di Solo. Pada kongres itu H. Samanhudi
terpilih sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakil. Kongres
tersebut dipimpin oleh Tjokroamonoto.
Sarekat Islam bagai aliran setrum
tegangan tinggi yang menghentakkan seluruh syaraf kesadaran kaum
muslimin bangsa Indonesia untuk segera mendobrak penjara-penjara yang
telah mengurung seluruh eksistensi mereka berabad-abad. Semangat
perlawanan yanag muncul di mana-mana dipandang oleh Korver sebagai
gerakan emansipasi kalangan Sarekat Islam, suatu cita-cita yang dihayati
oleh para pemimpinya. Gerakan emansipasi tersebut meliputi:
a. Penolakan akan berbagai prasangka negative dan diskriminasi terhadap golongan pribumi.
Pada kongres di Bandung, Tjokroaminoto menyatakan: “…merupakan tugas Sarekat Islam untuk memprotes kata-kata dan perbuatan yang bermaksud merendahkan ‘de Inlandsche onderdanen’
…rakyat yang berdiam di desa-desa atau kampung-kampung terus menerus di
sebut de kleine man (wong cilik), apakah sebutan ini sesungguhnya
tepat?” “Tidak!, ucapan seperti itu atau pandangan –pandangan yang
demikian sudah tidak pantas lagi didengar oleh suatu bangsa yang sedang
mulai berevolusi dan yang sedang mulai meningkatkan dirinya!”.[11]
b. Penilaian yang positif terhadap identitas diri sebagai bangsa
Identitas diri meliputi masalah keagamaan, seperti ungkapan yang melarang atau mengingkari agama sendiri, yaitu agama Islam. Harian Kaoem Muda
pada tahun 1915 mengecam suatu perkawinan antara putri seorang Bupati
dengan seorang Perwira Eropa yang tidak menganut agama Islam.[12]
Kemudian identitas kebangsaan,
seperti kecaman dan kritikan pedas yang dilancarkan terhadap orang
Indonesia yang meminta persamaan status hukum dengan orang Eropa. Hal
demikian dianggap sebagai pengkhiahat dan merendahkan bangsanya sendiri.
Selama masih ada orang demikian yang merasa sok berlagak, apakah
sesungguhnya yang dapat kita harapkan dari orang Eropa. Demikian tulis
harian Kaoem Moeda.[13]
Identitas diri yang juga didengungkan adalah sebagai bagian dari bangsa
Asia dengan suatu anggapan akan hancurnya peradaban Barat disusul
dengan bangkitnya Asia sebagai kekuatan yang pernah memimpin dunia.
c. Cita-cita menentukan nasib sendiri dan politik.
Masalah tuntutan persamaan hak-hak
politik secara gamblang dan terang-terangan diucapkan, dimulai ketika
pemerintah Belanda bermaksud membentuk milisi pada tahun 1914.
Tjokroaminoto dalam bulan september 1914, menolak rencana pembentukan
milisi apabila tidak disertai perbaikan dengan perluasan hak-hak politik
rakyat. Beliau juga berjanji (yang menurut Korver ‘janji samar-samar’)
apabila Jawa diserang, SI tidak akan memberikan bantuan kepada agresor.[14]
Kemudian R. Ahmad mengemukakan bahwa SI menolak dengan keras terhadap
rencana pembentukan milisi rakyat, sebelum Indonesia merdeka dan tidak
mempunyai hak bicara menentukan perang dan damai, pada saat ini
Indonesia masih dianggap sebagai ‘barang’ dan tidak mungkin ‘barang’
dapat mempertahankan diri, para pemiliknyalah yang harus mempertahankan
barang. Sinar Jawa menulis bahwa mempertahankan tanah air adalah baik,
tetapi pemerintah hendaklah memerintah rakyatnya dengan baik dan
mengakhiri penindasan yang dilakukannya;bangsa Indonesia harus lebih
dulu disamakan derajatnya dengan bangsa-bangsa lain.[15]
G.J. Hazeu (Penasihat untuk Urusan
Bumiputra) menyatakan bahwa kesadaran politik dan cita-cita otonomi bagi
pemimpin-pemimpin SI semakin tumbuh dan bahwa sikap ini dengan cepat
meluas pada anggata-anggotanya.[16]
Fakta-fakta tersebut menunjukkan
kesadaran politik seluruh lapisan masyarakat bahwa bangsa Indonesia
tidak boleh pasif menerima nasib dijajah oleh kolonial Belanda tetapi
harus bangkit menetukan nasibnya sendiri berhasil dilakukan SI.
Pada tahun 1915, Sarekat Islam telah memiliki 500 000 anggota,[17] dan enam tahun kemudian yaitu tahun 1921 anggotanya telah mencapai dua juta[18] orang serta telah terbentuk cabang-cabang SI di seluruh provinsi di Indonesia kecuali Irian Barat.[19]
Kongres Nasional Pertama di Bandung,
dihadiri oleh seluruh cabang Sarekat Islam yang meliputi Jawa, Sumatra,
Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Kongres yang bersifat nasional ini bukan
hanya pertama bagi Sarekat Islam, tetapi juga merupakan kejadian
pertama kali dalam sejarah pergerakan politik di Indonesia. Hal ini
tidak sekedar mencerminkan bahwa Sarekat Islam telah tersebar ke seluruh
penjuru tanah air (yang kelak menjadi batas-batas kekuasaan wilayah
Indonesia), tetapi juga mencerminkan suatu usaha yang sadar dari para
pemimpin SI untuk menyebarkan dan menegakkan cita-cita nasionalisme
dengan Islam sebagai ajaran yang dianggap dasar dalam pemikiran
tersebut.[20]
Kata ‘nasional’ diperdengarkan kepada
khalayak ramai untuk pertama kalinya. Menjelaskan kata ‘nasional’
Tjokroaminoto berkata bahwa ia merupakan suatu usaha untuk meningkatkan
seseorang pada tingkat natie …usaha pertama kali untuk
berjuang menuntut pemerintahan sendiri atau sekurang-kurangnya agar
orang-orang Indonesia diberikan hak untuk mengemukakan suaranya dalam
masalah-masalah politk.[21]
Kemudian dalam pidatonya Beliau mengemukakan lebih spesifik mengenai
bagaimana seharusnya hubungan antara Indonesia dengan Belanda, sebagai
berikut:
“Tidaklah layak Hindia –Belanda diperintah oleh Holand, Zoals een landheer zijn percelen beheert (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makanan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya. Keadaan yang sekarang yaitu negri kita diperintah oleh suatu Staten-General yang begitu jauh tempatnya nun di sana…dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggung jawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri….Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa kita”.[22]
Korver menyatakan bahwa Kongres SI
merupakan kesempatan pertama dalam sejarah Indonesia yang memungkinkan
manusia Indonesia dari berbagai bagian kepulauan Indonesia bersama-sama
melaksanakan politik dan bertukar fikiran mengenai bermacam-macam
permasalahan.[23]
Berdasarkan kenyataan di atas, maka di
Indonesia pada awal abad ke XX tahun 1915 M Sarekat Islam satu-satunya
organisasi gerakan politik yang telah berhasil dan mampu menggerakan
kesadaran politis dan menyelenggarakan kongres tingkat nasional I
(pertama) di Bandung/Jawa Barat .Setelah melaksanakan Kongres Nasional
pertama di Bandung, kemudian disusul Kongres Nasional II (1917).[24]
Kongres Nasional ke II diselenggarakan di
Jakarta melahirkan Program asas dan program Tandzim. Keterangan Asas
(Pokok) mengemukakan kepercayaan Centraal Sarekat Islam bahwa:
“Agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat
manusia…dan bahwasannya itulah sebaik-baiknya agama buat mendidik budi
pekertinya rakyat…Partai juga memandang agama sebagai sebaik-baiknya
daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya budi akal masing-masing
orang itu ada bersama-sama budi pekerti….dan memperjuangkan agar tambah
pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat…di atas jalannya
pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya akan boleh
mendapat kasa pemerintah sendiri (Zelf bestuur).[25]
Sesungguhnya mulai menampak betul-betul sifat, maksud dan tujuan “Syarikat Islam” ialah ketika sudah ditetapkan Program-Asas[26]
(Beginsel-program) dan Program-Pekerjaannya (Program van Actie) di
dalam Kongresnya pada tahun 1917 di Batavia (DJakarta). Maksud
Pergerakan S.I : akan menjalankan Islam dengan seluas-luas dan sepenuh-penuhnya, supaya kita mendapat suatu Dunia Islam yang sejati dan bias menurut kehidupan Muslim yang sesungguh-sungguhnya[27].
Program kerja dibagi atas delapan bagian
yaitu: Mengenai politik Sarekat Islam menuntut didirikannya dewan-dewan
daerah, perluasan hak-hak Volksraad dengan tujuan untuk
mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya
untuk legelatif. Sarekat Islam juga menuntut penghapusan kerja paksa dan
sistim izin untuk bepergian. Dalam bidang pendidikan, SI menuntut
penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di
sekolah-sekolah. Dalam bidang agama, SI menuntut dihapuskannya segala
peraturan dan undang-undang yang menghambat tersiarnya agama Islam.
Sarekat Islam juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan
eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi
menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negeri. Partai juga
menuntut perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapuskan particuliere landerijen
(milik tuan tanah) serta menasonalisasi industri-industri monopolistik
yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat
banyak. Dalam bidang keuangan SI menuntut adanya pajak-pajak berdasar
proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan.
Kemudian SI menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu,
perjudian, prostitusi dan melarang penggunaan tenaga anak-anak serta
membuat peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja dan
menambah poliklinik dengan gratis.[28]
Dalam Kongres Nasional Ke II ini terlihat
bahwa dalam tubuh SI ada kubu baru yang menyusup (infiltrasi) sehingga
menjadi konflik antara kubu Islam versus kubu Komunis . (SI Cabang
Semarang) dan dalam Kongres Nasional tahun 1919 terjadi puncak konflik .
Komunisme pertama kali diperkenalkan oleh Hendricus Josephus Fransiscus
Marei Sneevliet. Dia memulai karirnya sebagai seorang penganut mistik
Katholik tetapi kemudian dia beralih ke ide-ide sosial demokratis
revolusioner. Sneevliet datang ke Hindia pada ahun 1913 setelah
mengalami masa ramai dan penuh angin topan di SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) dan gerakan-gerakan buruh yang mempunyai hubungan dengan SDAP, kemudian dia menjadi simpatisan SDP (Sociaal Demokratische Partij),
perintis Partai Komunis, pecahan SDAP. Dia kemudian bertindak sebagai
agen Komunis Internasional (Komintern) di China dengan nama samaran G.
Maring. Kemudian dia menetap di Surabaya selama dua bulan dan menjadi
pemimpin redaksi Handelsblad, kemudian menjadi sekretaris Kamar Dagang di Semarang. [29] Di Semarang Sneevliet mendirikan VSTP (Vereeniging Spoor en Tramwegpersoneel) Serikat Buruh dan Trem sebuah gerakan radikal dimana ia kelak bertemu dengan Semaun, sebelum ia memprakarsai berdrinya ISDV (Indsche Sociaal Democratische Vereniging) bersama Ir. Adolf Baars.[30] Partai kecil beraliran kiri ini dengan cepat akan menjadi partai komunis pertama di Asia yang berada di luar Uni Soviet.[31]
Sejak datang ke Hindia dia sanga tertarik dengan gerakan-gerakan buruh,
untuk menjalin hubungan dengan gerakan politik Indonesia, ia mulai
menerbitkan Het Vrije Woord (Kata yang bebas). Anggota ISDV
pada mulanya hampir seluruhnya orang Belanda, kemudian sekitar tahun
1914-15 partai ini menjalin persekutuan dengan Insulinde (Kepulauan Indonesia), sebuah partai yang didirikan tahun 1907 dan setelah tahun 1913 menerima sebahagian besar anggota Indische Partij yang berkebangsaan Indo-Eropa yang radikal.[32]
Tetapi organisasi ini bukanlah merupakan media ideal bagi ISDV untuk
meraih rakyat sebagai basis utamanya, oleh sebab itu ISDV mulai
berpaling ke SI.[33]
Pemimpin-pemimpin muda SI yang radikal di tarik oleh Sneevliet dan
Baars ke ISDV dan dimatangkan dalam arti sosialis-revoluioner. Orang
terpenting dari kelompok ini adalah Semaoen yang sangat berjasa bagi
organisasi SI cabang semarang melalui garis sosialis.[34], juga Alimin di Batavia (Jakarta)[35].
Sebelum diselenggarakan Kongres Nasional
SI Pertama di Bandung, sejumlah aktivis ISDV bangsa pribumi sudah
bergerak secara aktif di SI dan Semaun hadir pada saat itu.[36]
Deliar Noer menyatakan bahwa tujuan ISDV ialah memancing rakyat banyak
untuk memperoleh dukungan-dukungan kepemimpinan mereka dalam rangka
pergerakan rakyat pada umunya. Mereka merasa cukup apabila kepercayaan
rakyat terhadap Sarekat Islam goncang. Sebagaimana yang dikatakan Adolf
Baars,“…Kami tahu…perdebatan ini telah menyebabkan kebingungan
yang besar di kalangan orang-orang Indonesia…dan bahwa masalah ini
banyak diperkatakan. Dengan itu saja, tujuan kita pun telah berhasil”.[37] Kegiatan ISDV di dalam lingkungan Sarekat Islam mengoncangkan partai seperti dalam masalah-masalah Indie Weerbaar, Volksraad dan perburuhan.[38]
Para pemimpin SI yang anti komunis menaruh curiga bahwa
kegiatan-kegiatan ISDV mendapat sokongan dari pihak pemerintah Belanda
dalam rangka usaha untuk mencegah pengikut partai yang tumbuh cepat dan
hal ini telah menyebabka timbulnya ketakutan di kalangan orang Belanda.
Abdul Moeis menulis bahwa Sneevliet seolah-olah dikirim dengan sengaja
oleh pemerintah Belanda untuk memecah gerakan rakyat yang merupakan
bahaya besar bagi tanah air Belanda.[39]
Pengaruh kiri ke dalam Sarekat Islam
semakin bertambah besar, jumlah anggota SI Semarang berkembang pesat
mencapai 20.000 orang pada tahun 1917 dan di bawah pengaruh Semaoen
mengambil garis keras anti kapitalis yang kuat. Cabang ini semakin hari
semakin lantang menyerang SI terutama masalah Indie Weerbaar dan Volksrad
sebagaimana telah dijelaskan, dan dengan sengit menyerang kepemimpinan
Central Sarekat Islam, terutama terhadap Salim dan Moeis.[40]Pada
bulan November 1918 Sneevliet dibuang, sementara Adolf Baars pulang
pada bulan Maret 1919. Kepergian pemimpin-pemimpin Belanda menjadikan
Semaoen dan Dharsono yang terkenal mahir dalam teori, tampil sebagai
pemimpin. Fokus policy-nya adalah hubungan dengan Sarekat Islam, dalam hal ini masalah infiltrasi untuk menancapkan pengaruh dalam SI.[41] Pada tahun 1918, Semaoen terpilih sebagai pengurus pusat CSI. Pada masa itu SI cenderung terwarnai oleh pentolan-pentolan ISDV,[42]
kegiatan pun bergeser kemasalah-masalah perburuhan. Pada kongres SI
tahun 1918 disetujui mengenai pemogokan-pemogokan buruh yang teratur
untuk memperbaiki nasib, mencari keadilan dan melawan pebuatan
sewenang-wenang (dan) akan memajukan ikhtiar kaum buruh buat memperbaiki
nasib, mencari keadilan dan melawan perbuatan sewenang-wenang itu untuk
menegakkan keadilan dan untuk menghapuskan tindakan-tindakan sesuka
hati. Partai juga akan membantu pemogokan–pemogokan. Pada kongres
tahun 1919 partai memberikan pengarahan tentang cara-cara mogok, dimana
pemogokan hanya dilakuakan apabila cara-cara damai tidak berhasil dan
apabila menurut perhitungan kemenangan dapat diraih oleh pihak buruh.
Pemogokan pada mulanya harus dibatasi pada suatu tempat, kemudian
diperluas ketempat lain dan pada akhirnya seluruh Tanah Air, bergantung
kepada perlu tidaknya tekanan ditingkatkan sebagai sokongan terhadap
tuntuan pekerja.[43]
Pada Kongres Nasional SI ke VII Oktober
1921 di Surabaya tersebut SI Merah (Komunis) secara organisatoris
dikeluarkan dari tubuh SI. Kubu Komunis Yang dikeluarkan dari kubu SI
(SI Putih) tahun 1921 menjadi PKHT dan pada tahun 1924 M menjadi PKI.
Berontak tahun 1926 dan 1927 di Sumatra, 1948 di Jawa/Madiun, 1965 G30S
di Jakarta.
Komunisme bagi Sarekat Islam seperti duri
dalam daging, semenjak awal datangnya faham ini membidik SI sebagai
sasaran untuk mensosialisasikan ide-idenya. Sarekat Islam yang berbasis
rakyat kecil, adalah lahan subur bagi komunisme. Ketika Sun Yat Sen
memimpin revolusi cina, Lenin sangat terkesan dan menaruh harapan besar
bagi perkembangan komunisme di Asia. Oleh sebab itu Lenin memerintahkan
kontak yang lebih dekat dengan gerakan emansipasi di Timur khususnya
negeri-negeri yang dipengaruhi Hinduisme. Perkembangan yang
‘menggembirakan’ komunisme di Asia digambarkan lewat ungkapan Lenin yang
dicatat oleh G. Sinovjet dalam Die Weltpartei des Leninismus: “Apa yang
terjadi di Barat memang sangat penting, tetapi apa yang terjadi di
Timur lebih penting, karena membuka jalan untuk berreovolusi”.[44]
Revolusi Rusia (revolusi Bolsjewik), pada tahun 1917, memberikan
dorongan kaum komunis diseluruh dunia untuk menyusun langkah-langkah
menuju revolusi dunia. Pada tahun 1918 SDAP mentransformasikan dirinya
menjadi Parati Komunis Belanda.
Upaya-upaya untuk mengeluarkan
orang-orang Komunis diprakarsai oleh Agus Salim dan Moeis yang memandang
bahwa perbedaan antara yang terjadi adalah perbedaan prinsip. Oleh
sebab itu Komunisme merupakan tantangan utama bagi Sarekat Islam dalam
bidang ideologi. Neratja edisi 18 Oktober 1921 memuat tulisan
Agus Salim yang menyatakan bahwa tindakan disiplin haruslah juga diambil
terhadap PKI (Partai Komunis India; maksudnya Hindia) karena hal ini
sangat perlu untuk menegakkan dasar partai, yaitu Islam. Panetrasi
dassar-dasar bukan Islam mengakibatkan partai melemah. Kemudian Salim
berkeyakinan bahwa tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan
mengobati pergerakan, obatnya ada dalam asasnya sendiri, asas yang lama
dan kekal yang tidak dapat dimubahkan orang sunggupun sedunia memusuhi
dengan permusuhan lain atau tazim, asas itu adalah Islam. Segala
kebajikan yang terdapat dalam suatu isme, ada dalam Islam dan sesuatu
kecelaan atau kenistaan dalam suatu isme tidak terdapat dalam Islam.[45]
Kongres Nasional VII digelar di Surabaya dihadiri oleh 36 cabang SI.[46]
Tjokroaminoto tidak hadir pada kongres tersebut, sehubungan dengan
penahanan yang dilakukan pemerintah Belanda dengan tuduhan bahwa
Tjokroaminoto telah memberikan keterangan palsu dalam kasus afdeiling B.
Seamoen dan Tan malaka berusaha
mempengaruhi keputusan sidang agar tidak menyetujui kebijakan disiplin
partai, melalui pidatonya yang masing masing diberi waktu lima menit.
Pada pidatonya Tan malaka menyatakan sebagai berikut :
“Saya telah mengemukakan berbagai hal
yang sama-sama ada pada PKI dan CSI. Saya menunjuk persatuan antara
kalangan Muslimin di Kaukasus, Persia, Bukhara dan daerah-daerah lainnya
dengan kaum Bolsycwik. Persatuan dengan kaum buruh Islam itu dianggap
oleh kaum kapitalis Inggris sebagai suatu bahaya bagi penindasannya.
Itulah sebabnya Pemerintah Inggris sampai minta dua kali dengan sangat
kepada pemerintah Soviet menghentikan propagandanya di negara-negara
Islam. Ini menggambarkan betapa sadarnya kaum Islam di luar Hindia
dan benar-benar memahami siapa kawan dan siapa lawan mereka di dunia
ini. Dikongres saya minta pemimpin-pemimpin CSI membujuk anggotanya
supaya tidak mau menerima disiplin partai.”[47]
Pada tahun 1921 M HOS Cokroaminoto
ditangkap dan ditahan oleh Belanda. Penahanan terhadap Tjokroamnoto
terjadi dilatarbelakangi peristiwa-peristiwa kerusuhan di Toli-toli,
Sulawesi yang mengakibatkan ditangkapnya Moeis dengan tuduhan telah
Mengadakan provokasi terhadap masyarakat Sulawesi. Kemudian kejadian
berdarah di Cimareme pada tanggal 7 Juli 1919.[48]
Pada pemeriksaan mengenai kasus tersebut
terungkap suatu organisasi rahasiah bernama Sarekat Islam Afdeling-B.
Beberapa pengurus SI, seperti Sosrokardono dituduh terlibat dalam
perkara tersebut.[49]
Kemudian Tjokroaminoto ditangkap pada bulan September 1921 dengan
tuduhan memberikan keterangan palsu pada pengadilan Sosrokardono.
Tjokroaminoto dibebaskan pada bulan April 1922.[50]
Penangkapan serta penahanan terhadap
Tjokro ini mendapat reaksi keras bahkan dari kalangan pers Belanda dan
Dewan Rakyat yang menyatakan bahwa tuduhan itu adalah rekayasa dengan
tujuan memfitnah.
Bersambung bagian 2….
[1] R.M.H Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Desa Bakur (Ponorogo/Madiun) pada tanggal 16 Agustus 1882 anak kedua dari keluarga R.M. Tjokroamiseno (Bupati Kletjo (Madiun), Kakeknya R.M. Adipati Tjokronegoro pernah
menduduki jabatan-jabatan penting diantaranya sebagai bupati di
Ponorogo. Oleh karena jasanya pada negeri, ia dianugrahi bintang jasa Ridder der Nederlansche Leeuw. R.M. Adipati Tjokronegoro adalah putera seorang Ulama yang bernama Kiai Bagoes Kasan Besari yang
memiliki pondok pesantren di Desa Tegal Sari, Kabupaten Ponorogo,
Karesidenan Madiun, Jawa Timur yang kemudian memperistri seorang putri
dari Susuhunan II. Dengan perkawinannya itu, dia menjadi keluarga
Keraton Surakarta. Tjokroaminoto menjalani pendidikan terakhirnya adalah
O.S.V.I.A di Magelang pada usia 19 Th sebuah pendidikan untuk anak-anak
priyai. (Sumber Amelz, HOS Tjokroaminoto Hidup dan Perjuangannya Jilid
I, Jakarta: Bulan bintang, 1952 dan Anhar Gonggong, H.O.S Tjokroaminoto,
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
[2] Pada
tanggal 13 mei 1912 tiga orang delegasi Sarekat Islam Solo mengunjungi
Surabaya untuk keprluan organisasi dan menemui Tjokroaminoto agar
beliau bergabung dengan organisasi untuk memperkuat jajaran pengurus SI.
Pada saat itu Tjokroaminoto sedang bekerja pada sebuah perusahaan Gula
di luar kota Surabaya. Menurut keterangan yang diperolrh Deliar Noer,
para pemimpin SI di Solo membayar ganti rugi perusahaan dimana
Tjokroaninoto bekerja agar kontrak kerjanya diputus dan kemudian
menjamin sepenuhnya nafkah hidup apabila beliau mau bergabung dengan SI
[3] Beberapa
alasan yang menyebabkan SI mengajukan pengakuan badan hukum, antara
lain: Pertama agar SI mempunyai wewenang untuk melakukan tindakan hukum
perdata. Kedua, pengakuan badan hukum dianggap sebagai persetujuan resmi
pemerintah terhadap perkumpulan yang bersangkutan (banyak pegawai renda
pemerintah yang bersimpati tidak berani masuk SI karena takut ditindak
oleh para atasan mereka). Ketiga, sulit bagi suatu perkumpulan yang
tidak diakui untuk mengadakan rapat (Peraturan Kepolisian Umum Untuk
Hindia Belanda menetapkan bahwa perkumpulan yang tidak diakui sebagai
badan hukum memerlukan izin tertulis dari Penguasa setempat untuk
mengadakan rapat atau berarti tidak boleh mengadakan rapat). Korver,
1985 hal 29-30.
[4] Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta:1994. hal.6
[5] Lihat
Mansur:1995, hal 142; Dalam penerbitan Kementrian penerangan Republik
Indonesia PEPORA No. 8 dengan judul Kepartaian di Indonesia, mengenai
PSII dikemukakan sebagai berikut: “Sekalipun pada saat itu banyak
perhimpunan lainnya di lapangan sosial ekonomi, tetapi SDI adalah
pertama-tama yang menginjak lapangan politik. Nama SDI diganti dengan SI
(Sarekat Islam) saja. Ringkasnya pada tahun 1911 SDI bergerak di
lapangan sosial ekonomi. Satu tahun kemudian, tahun 1912 namanya
berobah menjadi SI dan geraknyapun trang-terangan di lapangan politik.”
Dalam A. Ghani, hal 7.
[6] Perubahan
nama dari SDI ke SI, menurut Abdul Azis Thaba, MA. Dalam Islam dan
Negara terjadi pada tanggal 11 November 1911 dalam suatu pertemuan di
Solo, hal.142.
[7] Abdul Azis MA.1996, hal 141.[8] Dalam Abdul Azis Thaba MA, 1996 hal 141.
[9] Korver, hal.22
[10] Utusan Hindia , 7 Maret 1912; Dalam Deliar Noer, hal 126
[11] Korver,op.cit. hal 50
[12] POKT (Persoverzicht in het Koloniaal Tidjschrift) 5 (1916) hal 86, dalam Korver, op.cit. hal 54.
[13] Korver, op.cit, hal 54
[14] Korver, op.cit. hal 57
[15] Korver, op.cit. hal 58
[16] Korver,op.cit. hal 60
[17] Menurut
Korver jumlah anggota SI seluruhnya pada periode 1912-16 ditaksir
sekitar 700.000 anggota dengan 180 cabang. Korver, op.cit. hal 195.
Lihat juga Priggodigdo, op.cit. hal 7, menyatakan jumlah anggota SI
sampai tahun 1916 mencapai 800.000 anggota.
[18] Pringgodigdo, op.cit. hal 6 menyatakan bahwa jumlah SI pada tahun 1919 mencapai 2 juta orang.
[19]Cabang-cabang SI sampai tahun 1916 telah dibuka di: Banten (1914) yaitu: Serang, Labuan dan Rangkasbitung. Jakarta (1913), meliputi: Jakarta, Tangerang, Jatinegara dan Bogor. Priangan, meliputi: Bandung, Cimahi, Cianjur, Sukabumi, Tasik Malaya, Cikalong Kulon, Majalaya dan Manonjaya. Cirebon: Cirebon, Indramayu, Ciamis, Majalengka, Kuningan, Jatibarang,Karangampel dan Losarang. Tegal (1913): Tegal, Pemalang, Brebes dan Patarukan. Banyumas (1913): Banjarnegara, Purbolinggo, Cilacap, Sukaraja dan Purwokerto. Pekalongan (1913) : Pekalanongan dan Batang. Bagelan (1913): Wonosobo, Kutoarjo, Purworejo, Gombong dan Kebumen. Kedu (1913): Parakan, Muntilan, Tumanggung dan Magelang. Semarang (1912): Kdus, Demak, Purwodadi, Semarang, Sukaraja, Salatia, Kendal, Ambarawa, Pati, Jepara, Godong dan Kaliwungu. YogyakartaSurakarta(1912): Surakarta, Sragen, Boyolali, Klaten, Batureno, Karanganyar, Delanggu dan Selo. RembangMadiun (1912): Madiun, Ngawi, Ponorogo, Magetan dan Pacitan. Kediri (1913): Kediri, Tulungagung, Gurah, Blitar, Pare, Nganjuk, Kertosono, Padangan dan Wlingi. Surabaya (1912): Surabaya, Sidoarjo, Jombang Mojokerto, Gresik, Sidayu dan Babad. MaduraPasuruan (1913): Malang, Bangil, Kapanjen dan Pasuruan. Probolinggo (1914): Probolinggo, Kraksaan, Paiton, Lumajang dan Gading. Besuki (1913): Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Besuki dan Kalisat. Bali (1915): Jembrana. Distrik Lampung (1914): Telukbetung, Sukadan, Kota Bumi, Mangala, Aji Kagungan dan Negara Tulung Bawang. Bengkulu (1914): Bengkulu dan Kroe. Palembang (1915): Palembang, Muara Enim, Lahat, Tebing Tinggi, Pagar Alam, Muara Bliti, Pulau Panggung, Menanga, Burai dan Batu Raja. Jambi (1916): Jambi, Muara Tembesi, Muara Tebo, Bangko dan Sarulangun Jambi. Riau (1914) : Indragiri. Sumatra Barat (1916) : Padang. Tapanuli (1916): Sibolga Padang Sidempuan, Barus dan Gunung Sitoli. Sumatra Timur (1914): Medan, Labuan Bilik, Serdang, Langkat, Tanjung Balai dan Tebing Tinggi. Aceh (1915): Kota Raja, Singkel dan Sinabang. Kalimantan (1913): Samarinda dan Banjarmasin. Kalimantan Tenggara (1914): Negara,
(1913): Yogyakarta dan Kretek. (1913): Rembang, Bojonegoro, Tuban,
Cepu, Sidorejo, Blora, Randublatung, Jatirogo, Lasem dan Singgahan.
(1913): Sepanjang, Sampang, Sapudi, Bangkalan, Sumenep, Pamekasan dan
Prenduan. Kendangan, Barabai, Pasir, Kota Baru, Pleihari, Martapura,
Muara Tewe, Alibiyu, Amuntai, Rantau, Sampit, BakumpaiParingin, Klua,
Balikpapan, Tenggarong, Kota Waringin dan Tabalong. Kalimantan Barat (1915): Pontianak dan Sulawesi (1914): Ujung Pandang (Makasar) dan Donggala. Korver, Op. Cit. Hal 227-230.
[20] Lihat Deliar Noer, op. Cit. Hal 126[21] Idem
[22] Deliar Noer, op, cit hal 126-127. Lihat juga Korver op.cit hal 58-59. Mansur, op.cit hal 200.
[23] Korver op.cit hal 270
[24] Dari
berbagai literatur, penulis menemukan bahwa kongres yang I (pertama)
diselenggarakan di Bandung pada tahun 1916. Pendapat tersebut
dikemukakan sebagai berikut: Mansur, dalam buku ‘Menemukan Sejarah,
1996, hal 192 dan198. Deliar Noer, dalam Gerakan Modern Islam di
Indonesia, edisi terjemah,1982, hal 126,142, kongres ke II tahun 1917.
Ape Korver, op. Cit hal 59, 63. Pringgodigdo, dalam Sejarah Pergerakan
Rakyat Indonesia, hal 7, sedangkan Kongres Nasional ke II
diselenggarakan di Jakarta 20-27 Oktober 1917 dan ke III di Surabaya
29 September-6 Oktober 1918.
[25] Deliar Noer, op. cit, hal 127.[26] Program Asas ini konon didikte oleh Rosululloh dalam mimpi.
[27] Tafsir Program-Asas P.S.I.I , hal 3 dan 4.
[28] Deliar Noer, op.cit, hal 128-129
[29] Harry A. Poeze, Tan Malaka-Pergulatan menuju Republik, Jakarta, 1988, hal 165. Lihat juga, Korver, op, cit, hal 6. Deliar Noer, hal 136. Ricklefs, hal 260
[30] Harry A. Poeze, op, cit, hal 165.[31] Ricklefs, op.cit, hal260.
[32] Riklefs,
op. cit hal 261. Deliar Noer menyebutka bahwa ISDV awalnya dihuni oleh
orang-orang Indo-Eropa yang tidak bersifat Komunis, tetapi kemudian
organisasi ini mempopagandakan ide Sosialis dan mengubah dirinya menjadi
perkumpulan Komunis setelah brhasilnya Revolusi Rusia.op. cit hal 136.
Lihat juga A.Poeze, op, cit hal 166.
[33] Pringgodidgo
menyatakan bahwa usaha-usaha yang dilakukan ISDV dalam rangka merekrut
anggota memakai organisasi lain sebagai perantara. Karena dia sendiri
tidak bisa bersandar pada rakyat umum. Anggota-anggota orang Belanda
mendekati serdadu-serdadu Belanda (Sneevliet), serdadu-serdadu Angkatan
Laut (Bansteder) dan Pegawai Negri sipil didekati oleh A.Baars,
sementara anggota-anggota bangsa Hindia disusupkan ke SI untuk mendekati
rakyat (Semaun). Op. cit. Hal 28.
[34] Poeze, op, cit hal 166.
[35] Alimin,
lahir 1889 adalah generasi permulaan dari kaum komuis Indonesia selain
Muso, Ngadiman dan Sardjono. Alimin memasuki Budi Utomo dan Saerkat
Islam. Tahun 1910 muncul Insulinde yang merupakan organ sayap kiri Budi
Utomo. Aliminlah penanggung jawab majalah kepunyaan Insulinde di Batavia
dan merupakan anggota Komite Pimpinan Sarekat Islam. Ia kemudian
menjadi pimpinan Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda yang terbentuk
tahun 1914 dan menjadi Sekjennya di Batavia. Setelah Persatuan Demokrat
berubah menjadi Partai Komunis Indonesia tahun 1923, Bulan Desember
1924 ia diangkat menjadi anggota pimpinan PKI. Setelah gagal dalam
pemberontakan akhir tahun 1926- awal 1927, Alimin beserta Muso tak bisa
kembali ke Indonesia setelah sebelum pemberontakan ia ditugaskan untuk
meminta nasehat Intenationale. Setelah mengalami berbagai peristiwa ia
balik ke Moskow. Partai Komunis dilarang. (Prisma No.8 Tahun 1979, Hal
50)
[36] A.Poeze, op, cit hal 166.[37] Deliar Noer, op. cit hal 134.
[38] Infiltrasi
yang dilakukan oleh ISDV mengakibatkan gerakan SI berubah, yang tadinya
berpusat pada usaha menanamkan kesadaran politik dan ekonomi nasional
terhadap rakyat, setelah ada serangan dari pihak Semaoen dkk. Maka para
pemimpin SI berkonsentrasi menghadapi serangan ini agar cita-cita
pergerkan tetap dalam jalur yang benar. Mansur, op. cit. Hal 251. Lihat
juga Pringgodigdo yag ,enyatakan pengaruh ISDV membuat SI cenderungnke
kiri, di samping pengaruh sifat penjajahan yang ber arti oleh bangsa
untuk bangsa asing. Op.cit. hal. 8-9.
[39] Deliar Noer, op. cit. Hal 136.[40] Ricklefs, op. cit. Hal 263.
Serangan balasan dilakukan Agus Salim dalam Neratja edisi 1 Oktober 1917, menulis:
“Adalah suatu kaum yang harus kita
jauhkan dari pada pergerakan kita, suatu kaum yang hendak menerbitkan
perceraian antara bangsa kita yaitu kaum yang hendak membagi bangsa kita
atas‘kaum pekerja’ dengan ‘kaum bermodal’. Kaum itu alah kaumnya
membatalkan hak milik, yang memakai nama ‘socialist’yang dibangunkan dan
dikembangkan dalam ngri ini oleh tuan-tuan Seneevliet, Baars dan
lain-lain….kaum socialist itu membuta tuli saja hendak memindhkan
sengketa dan perselidihan di rumah tangganya (Eropa) ke Tanah Air
kita,padahal suatu pun tidak ada sebabnya bagi kita akan bersebgketa
atau berselisih dalam rumah tangga kita”. Deliar Noer, hal. 133
[41] Sejak
Revolusi Rusia pada tahun 1917, ISDV menjadi badan Komunis yang nyata.
Pada akhir tahun 1917, ISDV telah menghimpun 3.000 orang sedadu dan
kelasi ke dalam sovie-soviet, terutama di pelabuhan Surabaya. Lhat
Ricklefs, op..cit. hal 265.
[42] Meminjam
istilah Pringgodigdo yang menyatakan bahwa SI pada masa itu ‘bergeser
ke kiri’. Pengaruh pentolan ISDV, juga tercermin dalam Anggaran dasar
CSI sebagai sala h satu dasarnya yaiu perjuangan menentang kapitalisme
berdosa. Pringgodigdo, op. cit. Hal. 8, 28. Lihat juga Ricklefs, hal
262-263, A. Poeze, op.cit. hal 167.
[43] Deliar Noer, op. cit. Hal. 135.[44] Dalam Mansue, op. cit. Hal 215.
[45] Dalam Deliar Noer, op. cit hal 138-139
[46]Berkurangnya
jumlah peserta yang hadir pada kongres ini dibanding kongres-kongres
sebelumnya, sebahagian disebabkan kesukaran keuangan (seringnya
kongres diadakan dengan sendirinya merupakan beban yang berat bagi para
anggota dalam hal keuangan). Disamping itu reaksi represip Pemerintah
Belanda dalam menghadapi kecenderungan kekerasan politik yang terjadi
pada saat itu, menyebabkan para pendukung partai merasa tertekan dan
takut. Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah konflik elit partai
yang menjurus pada hal-hal yang bersifat pribadi, telah turut pula
merenggangkan ikatan kepemimpianan terhadap pengikut massa pengikut yang
mulai mempertanyakan hubungan mereka terhadap partai. Hal ini juga
suatu bukti bahwa, penetrasi golongan Komunis yang beroperasi sejak
tahun 1914 telah berhasil memecah kekuatan SI. Lihat Deliar Noer, op
cit hal 141
[47] Total
waktu brbicara bagi golongan komunis pada kongres ini adalah 15 menit,
lima menit untuk Semaoen, lima mnit untul Tan Malaka dan lima menit
untuk wakil komunis cabang selain Semarang.Hal ini berbeda dengan
masa-masa sebelumnya dimana golongan Komunis bebas berbicara tanpa
dibatasi waktu dan materinya. Sebelum naik ke mimbar ketua panitia
mengingatkan kepada pihak Komunis untuk tidak melakukan propaganda
Komunis. A.Poeze,op.cit.hal 205.
[48] Peristiwa
Cimareme terjadi ditengah-tengah ancaman kelaparan yang mengancam pulau
Jawa, untuk mengatasi bahaya kelaparan tersebut Pemerintah Belanda
mengambil kebijakan untuk mengambil beras dari para petani dengan jumlah
tertentu. Tetapi dalam tehnis pengambilan beras tersebut tidaklah
sesuai dengan ketentuan, melainkan sesuai dengan para pejabat setempat
yang berbua sewenag-wenang. Bahkan pengambilan beras seringkali tidak
memakai tanda terima, sehingga penyerahan beras dilakukan beberapa kali.
Haji Hasan seorang penduduk berusia
86 tahun, menolak meyerahkan jatah beras dengan alasan jatah beras
tersebut untuk menghidupi sejumlah orang yang harus diberi makan. Pada
bulan April dia memohon kepada pemerinah untuk mengurangi jumlah padi
yang harus diserahkan, tetapi Bupati menolak dan mengutus Wedananya
untuk tetap mengambil berdasarkan jumlah yang telah ditentukan.
Pada tanggal 7 Juli 1919, datanglah
Wedana dan para pamongnya. Haji Hasan bersama keluarga dan warga
setempat berbaris dengan pakaian putih dan menolak menyerahkan padi,
kemudian Wedana melaporkan hal ini kepada Residen dan Bupati bahwa
masyarakat di kampung Cimareme mau menyerang para Pejabat Pemerintah.
Tidak lama kemudian datanglah Residen dengan 30 orang polisi, kemudian
Bupati yang juga datang menyita keris dan baju Haji Hasan dan warganya.
Karena Haji Hasan dan Warganya tidak mau beranjak dan membubarkan
barisannya, Residen menyuruh polisi untuk menembak barisan tersebut.
Maka empat orang tewas seketika, 20 orang luka berat, 30 petani
ditangkap serta sebahagian lain berhasil melarikan diri. Lihat Deliar
Noer, op.cit.hal 215-216. Ricklefs, op.cit. hal 263.
[49] Sosrokardono,
Sekretaris CSI pada masa itu dituduh berpartisipasi dalam suatu
organisasi yang mempunyai tujuan untuk melakukan kejahatan (maksudnya
Afdeling-B, pen.). Diadili di Cianjur pada bulan November 1920, kemudian
dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. M.C. Ricklefs, berpendapat bahwa
Sosrokardono lah yang mendirikan Afdeling B atau Seksi B atau Sarekat
Islam B suatu cabang revolusioner, pada tahun 1917. Ricklefs juga
menyatakan bahwa penangkapan terhadap kasus Afdeling B, selain
Sosrokardono ditangkap juga Alimin dan Muso dimana pada saat mereka
adalah orang ISDV yang disusupkan ke SI. Pada tahun 1923, Sosrokardono
dibebaskan, kemudian bersama Alimin dan Muso bergabung dengan PKI. Pada
harian Kemajuan Hindia edisi 30 Agustus 1924 memuat berita bahwa
Sosrokardono menaruh dendam kepada Tjokroaminoto dan bersama PKI menuduh
beliau sebagai orang Pengecut. Ricklegs, op.cit. hal. 264,271. Noer,
op.cit.hal. 218.
[50] Robert
Van Niel, ‘Development of the Indonesian Elite in the Early Twentieth
Century’, Desertasi Ph.D, Cornel Unversity,1954. Menyatakan fihak
Belanda bertahan pada pendapat bahwa Afdeling-B adalah sebuah
organisasi rahasiah yang mempunyai tujuan untuk menggulingkan
pemerintahan atau mau membunuh semua orang Eropa dan Cina. Sementara itu
Neratja, edisi 24 Februari 1919 melaporkan mengenai sebuah
pengumuman yang dikeluarkan oleh Central Sarekat Islam bahwa orang yang
bernama Haji Ismail, Pemimpin Afdeling-B, pernah menjadi Ketua SI
Manonjaya pada tahun1914. Afdeling B didirikan pada tahun 1917 oleh Haji
Ismail dengan menempatkan para anggotanya pada disiplin keras. Kemudian
pada tanggal 24 Februari 1919 Haji Ismail Mendatangi Tjokroaminoto dan
menyatakan kesediannya dia dan para pengikutnya untuk menerima intruksi
dari CSI. Tjokroaminoto, selakku Presiden CSI menolak tawaran tersebut
disebabkan tidak mengetahui bentuk dari Afdeling B tersebut. Kemudian Neratja,
edisi 29 November 1919 memuat laporan G.A.J. Hazeau, Penasihat
Masalah-masalah Bumiputra, yang menyatakan bahwa Haji Hasan adalah musuh
SI. Dalam Deliar Noer, op. cit. hal. 217.
Posting Komentar