Muharram, Jalan Menuju Fajar Asia
oleh : Bakti Sudjanmowani (Mahasiswa tinggal di Bandung)“Dari sebab itoe, soedah tentoelah dalam Islam ada Nationalisme, sebab Tjinta bangsa dan tanah air (wathan) hanjalah sebagian dari pada segalanja itoe –Iman–. Bagi tiap-tiap orang Islam, toea dan moeda, kaja dan melarat, pandai atau bodoh, semoeanja memikoel tanggoeng djawab atas kewadjiban itoe, jaitoe kewadjiban mentjintai tanah airnja.” -S. M. Kartosoewirjo [1]
Perputaran waktu itu adalah kepastian.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan abad terus berganti.
Hasil akhir itu tidak mengikat. Proses perjalanannyalah yang mengikat.
Sebagaimana halnya dengan proses penciptaan manusia, bulan Muharram
merupakan bagian dari proses kehidupan. Lalu, seberapa pentingkah Muharram itu?
Hijrah sebagai Proses Transformasi
Mari kita bersama-sama mundur jauh ke
belakang, 1433 tahun sebelum saat ini, saat dimana permulaan penanggalan
peradaban Islam. Sistem kalender Islam ini ditetapkan pada masa
kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai titik tolak (starting point)
peradaban manusia modern yang ditandai dengan peristiwa hijrah
Rosulullah SAW. bersama para sahabatnya. Hijrah dari negeri Makkah ke
negeri Madinah. Hijrah dari cara hidup Makkah ke cara hidup Madinah.
Peristiwa hijrah yang terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yatsrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabi’ulawwal
inilah yang menjadi alasan Ali bin Abi Thalib menyarankan ke Khalifah
Umar untuk menetapkan awal tahun kalender Islam adalah pada saat momen
penting peristiwa hijrah.
Berbicara Islam adalah berbicara
peradaban. Dan peradaban adalah perubahan, pergantian, dan peningkatan
(penyempurnaan). Berangkat dari sejarah pelaksanaan hijrah Rosul, Shafar artinya perjalanan (merantau). Sedangkan Rabi’ulawwal artinya
awal menetap (kembali) dari merantau. Peristiwa hijrah tersebut dapat
diartikan sebagai proses perjalanan panjang pencarian dan penetapan
peradaban. Kedua belas bulan dalam kalender Islam memiliki arti
masing-masing sesuai dengan keadaan/sistem kehidupan yang telah
digariskan oleh Allah Swt. yang sifatnya mengikat.
Muharram adalah bulan yang mulia. Bulan perenungan setelah kita berkurban di bulan Dzulhijjah. Bulan Muharram
bagaikan antiklimaks dari proses perjuangan hidup penghambaan manusia
kepada Penciptanya yang ditandai dengan berhaji dan berkurban sebagai
pelaksanaan rukun Islam yang terakhir di bulan Dzulhijjah. Proses penghambaan tiada henti inilah yang disebut dengan peradaban.
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali…” (An Nisaa’: 97).
Hijrah dari Makkah ke Madinah tidak hanya
ditandai dengan perpindahan secara fisik dalam arti migrasi dari kota
Makkah ke kota Yatsrib saja. Lebih dari itu, hijrah Rosulullah ini
merupakan cikal bakal perlawanan yang seimbang antar dua negara yang
berdaulat. Proses transformasi dari diri menjadi keluarga, menjadi
bangsa, dan menjadi negara yang berdaulat inilah makna yang sebenarnya
dari hijrah Rasulullah tersebut. Dari bentuk yang paling sederhana yang
ditandai dengan sistem diri menjadi sistem negara yang kompleks.
Cita-cita tertinggi seluruh umat Islam
adalah kemerdekaan sejati. Kemerdekaan sejati itu adalah penghambaan
totalitas kepada Sang Pencipta dalam seluruh sendi kehidupan dengan cara
mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW sebagai teladan. Penghambaan
secara totalitas tanpa rasa terancam dan teraniaya ini wajib diupayakan
selama hayat masih dikandung badan. Perintah Allah untuk berhijrah ke
Yatsrib adalah untuk membuktikan dua kalimat syahadat (tauhid) yang
telah diikrarkan secara lisan dan sebagai pembeda antara masyarakat Makkah yang biadab (bodoh, tiran) dengan masyarakat Yatsrib yang beradab (bertauhid, berilmu).
Setelah Rasulullah berhijrah, Yatsrib
kemudian berubah nama menjadi Madinah. Madinah artinya kota/ibukota.
Terdapat pengertian bahwa madinah itu adalah sebuah tempat
dilaksanakannya din (agama, sistem penghambaan) yang bernama Islam dan
memiliki pemerintah (struktur kepemimpinan), memiliki hukum, serta
ditaatinya pemimpin dan hukum tersebut oleh seluruh masyarakat yang
mendiami tempat itu. Tempat dimana din Islam berlaku penuh dalam seluruh
sendi kehidupan akan selalu bernama Madinah menurut pengertian tersebut
di atas. Dari akar kata din dan Madinah ini lalu dibentuk akar kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikan kota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan.
Jika arti dari Madinah sendiri seperti
itu, kemudian Allah Swt. telah memerintahkan bahwa rukun hidup adalah
Iman-Hijrah-Jihad, maka hanya orang bermental ‘makkah’lah (biadab, bodoh, menganiaya diri sendiri) yang akan menolak cita-cita hijrah menuju Madinah.
Hijrah dalam Konteks Ke-Indonesiaan
Proses transformasi pun terjadi di
Indonesia. Indonesia yang dikuasai oleh imperialisme barat akan selalu
bercita-cita untuk menentukan nasibnya sendiri (baca: merdeka). Hal ini
menandakan bahwa di manapun tempat hidup kita, di sanalah proses hijrah
itu berlangsung. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Jika
prinsip hijrah itu datangnya dari perintah Allah Swt., maka penggunaan
hijrah itu juga harus dalam kerangka penghambaan kepada Allah Swt. saja.
Hijrah yang dimaknai kerdil hanya sebatas alih bahasa, maka hasilnya
akan kerdil pula. Iman-Hijrah-Jihad yang diperintahkan oleh Allah Swt.
adalah visi hidup setiap muslim. Bukan hanya sekedar proses yang bisa
dilakukan atau bisa juga tidak. Hanya merupakan pilihan. Bukan seperti
itu.
Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan
Indonesia, terdapat tiga ideologi besar yang menjadi landasan perjuangan
yaitu Islam, Nasionalisme, dan Komunisme. Dalam sejarahnya,
masing-masing ideologi tersebut mengambil peranan penting dalam
perebutan kekuasaan atas tanah air Indonesia. Masing-masing berhak
mengklaim memiliki Indonesia dengan corak ideologinya. Islam sebagai
salah satu ideologi yang mewarnai masyarakat Indonesia pun memiliki
sejarahnya sendiri.
Umat Islam wajib memahami bahwa
Iman-Hijrah-Jihad adalah metode perjuangan dalam meraih kemerdekaan
sejati yang diperintahkan oleh Allah Swt. Tidak ada jihad tanpa hijrah.
Tidak ada hijrah tanpa iman. Dan tidak dikatakan beriman seseorang,
jika tidak melakukan hijrah dan jihad dalam hidupnya. Pemahaman inilah
yang melatarbelakangi bentuk perjuangan umat Islam bangsa Indonesia
untuk mengambil langkah tegas dalam meraih kemerdekaan sejati yang
dicita-citakannya. Yaitu dengan menerapkan metode perjuangan para nabi
dan rosul (baca: hijrah).
Metode hijrah yang dipahami dan
dilaksanakan oleh tokoh pergerakan Islam Indonesia dan umat Islam bangsa
Indonesia adalah hijrahnya para nabi dan rosul. Sejarah pergerakan dan
kemerdekaan Indonesia memulai babak baru sejak 16 Oktober 1905 dengan
didirikannya Syarikat Dagang Islam (SDI) oleh KH. Samanhudi di Solo.
Seperti proses awal seruan dakwah Rosulullah Muhammad SAW., K.H.
Samanhudi pun berlaku sama ketika melihat diskriminasi yang dilakukan
oleh para pedagang Cina kepada pedagang pribumi. Pada saat itu pedagang
Cina dengan dilindungi oleh penjajah Belanda memonopoli perekonomian
Indonesia, dalam hal ini terkhusus perdagangan batik di Solo. Rasa
kebangsaan K.H. Samanhudi inilah yang mendorong beliau untuk mendirikan
syarikat yang dapat melindungi keberlangsungan ekonomi pribumi seperti
apa yang dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad SAW. dalam melihat
pemerintahan tiran Abu Jahal. Kata ‘Islam’ di dalam SDI adalah simbol
kepribumian karena mayoritas masyarakat Indonesia memeluk Islam.
Sejak saat itu SDI berturut-turut
bertransformasi, berhijrah menuju Syarikat Islam (SI), Partai Syarikat
Islam Indonesia (PSII), Darul Islam (DI), hingga tercapainya cita-cita zelfbestuur (pemerintahan sendiri) berupa Negara Islam Indonesia (NII). Cita-cita kemerdekaan sejati tersebut telah diungkapkan oleh H.O.S. Tjokoroaminoto pada pidato National Congres Centraal Syarikat Islam
(Natico I) di Gedung Concordia (sekarang Gedung Merdeka di Jalan Asia
Afrika) Bandung tahun 1916. SI adalah satu-satunya organisasi pergerakan
yang menggunakan kata nasional pada saat itu. Hal ini terbukti bahwa
tujuan kemerdekaan Indonesia itu hanya diwakili oleh Syarikat Islam jauh
sebelum Sumpah Pemuda dilaksanakan. Bahkan setelah kongres pertama
Central Syarikat Islam (CSI) di Bandung tersebut, SI kemudian menjadi
organisasi pergerakan terbesar yang anggotanya mencapai 2.500.000
orang pada tahun 1919 dan tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam catatan sejarah, cita-cita seperti
ini tidak dimiliki oleh organisasi pergerakan lainnya di tahun itu.
Tidak juga oleh Boedi Oetomo. Bahkan, Boedi Oetomo pun tidak bergerak di
bidang politik. Atau bahkan anggotanya sedikit, kelas terpelajar dan
bangsawan, dan hanya orang Jawa dan Madura saja. “Roepanja sangat boleh djadi B.O., jang hendaknja akan mempertinggikan ,,kultuur” dan ,,kebangsaan” Djawa” [2].
Lahirnya Boedi Oetomo hanya disebabkan oleh penerapan Politik Etis dari
penjajah Belanda. Itu saja. Walhasil, organisasi Boedi Oetomo ini
bubar di tengah jalan tanpa pernah mencita-citakan kemerdekaan nasional.
Zelfbestuur sejatinya merupakan
pelaksanaan prinsip hijrah dalam Islam. Cita-cita tertinggi setiap
muslim adalah memiliki pemerintahan sendiri.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Anfaal: 72).
Hijrah dari keadaan terjajah menuju
kemerdekaan nasional kemudian dilanjutkan kepada kemerdekaan sejati
telah digambarkan dalam sejarah pergerakan dan kemerdekaan Indonesia
dalam pencapaian zelfbestuur ini. Allah Swt. memerintahkan
setiap muslim untuk menerapkan Iman-Hijrah-Jihad dalam setiap langkah
hidupnya. H.O.S. Tjokroaminoto menggambarkan prinsip tersebut dengan
falsafah perjuangan SI, “Semurni-murni tauhid, Setinggi-tinggi ilmu, sepandai-pandai strategi.”
SDI adalah penggambaran perlawanan rakyat
terhadap keterjajahan. SI-PSII adalah penggambaran upaya meraih
kemerdekaan nasional. DI adalah upaya untuk meraih kemerdekaan sejati.
Dan Negara Islam Indonesia (NII) adalah zelfbestuur yang diperintahkan oleh Allah Swt. S.M. Kartosoewirjo menuliskannya dalam brosur Sikap Hidjrah PSII pada 10 September 1936 :
“Njatalah soedah, bahwa Pergerakan itoe dengan merangkak2 dan berangsoer-angsoer, dari sedikit ke sedikit dan dari setapak ke setapak mengikoeti perdjalanan Nabi Çlm, jang menerima toentoenan langsoeng dari pada Allah.”
Sejarah menggambarkan bahwa hijrah yang
dilakukan oleh umat Islam bangsa Indonesia itu murni mencontoh proses
yang diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam meraih kemerdekaan sejati.
SDI itu sama ketika Rasulullah membentuk Darul Arqam. SI-PSII itu ketika
Hijrah ke Habasyah yang pertama. DI itu ketika hijrah ke Habasyah yang
ke dua. NII itu ketika hijrah ke Madinah. Setelah itu Rasulullah SAW
hijrah ke Makkah kembali untuk menyempurnakan semuanya. Ini adalah
peristiwa futuh Makkah yaitu dibebaskannya Makkah dari kekuasaan tiran
Abu Jahal. Makkah adalah tanah air Rosulullah SAW. Beliau diangkat dan
diutus menjadi Rosul di negeri itu. Sudah menjadi kewajiban Rosul untuk
kembali dan membebaskan tanah airnya yang belum merdeka sebagai bukti
dari cita-cita tertinggi setiap muslim yaitu kemerdekaan sejati.
“Dan Hidjrah itoe wadjib poela teroes berdjalan, selama di tempat itoe masih meradjalela peratoeran-peratoeran penjembahan berhala, tegasnja peratoeran-peratoeran jang melanggar Agama Allah! Dalam tarich ditoeliskan, bahwa berhentinja Hidjrah itoe pada waktoe Islam telah mendapat kemenangan atas Mekkah, satoe kemenangan jang hanja akan tertjapai dengan Kehendak (Iradat) dan Kekoeasaan (Qudrat) Allah semata-mata !
Sedjak zaman itoe tidak lagi terdjadi
poetoes perhoeboengan atau perpisahan antara Mekkah dan Madinah,
melainkan kedoea itoe disatoekan, diseboeahkan. Bukan “disatoekan” dalam
erti kata, jang kedoea negeri itoe mendjadi satoe negeri ! Djaoeh
djaraknja (antaranja), tidak beroebah watas-watas kedoea negeri itoe !
“Satoe”, karena kedoea negeri itoe,
sedjak datangnya Falah dan Fatah jang njata itoe, diikat oleh tali-tali
(hoekoem-hoekoem) Allah !
“Satoe”, karena negeri itoe mendjadi tempat penjembahan Allah jang teroetama !
“Satoe”, karena kedoea negeri itoe
masing-masingnja disoetjikan oleh Allah ! Maka soedah sepatoetnjalah,
jang kedoea negeri itoe sedjak moela disoetjikan oleh Allah hingga pada
sa’at ini, terkenal namaja sebagai “Haramain”, tegasnja kedoea negeri
jang soetji.” [3]
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka
dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.
Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Semangat Tahun Baru
Tahun demi tahun akan berlalu. Jejak
sejarah selalu ada sebagai tolok ukur kehidupan masa depan. Muharram
sebagai bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Bulan yang diharamkan
darah tertumpah. Bulan dimana umat muslim “dipaksa” merenung
mengevaluasi penghambaannya ke Ilahi Rabbi di tahun sebelumnya. Sebelum
ajal menjemput, umat muslim pantang berputus asa. Pantang berkeluh
kesah. Pantang mundur ke belakang. Peristiwa tahun sebelumnya adalah
bagian dari sejarah perjalanan hidup. Ekonomi, sosial, budaya,
pendidikan, politik, hukum, pertahanan yang berpayung tauhid adalah
cita-cita tertinggi yang wajib diraih oleh setiap muslim di Indonesia.
Berperan aktif mengupayakan falah (kebahagiaan) dan fatah (kemenangan, pembukaan) adalah keharusan bagi setiap insan yang merdeka, yang menyadari rukun Islam yang pertama[4]. Syahadat merupakan persaksian penghambaan manusia kepada Tuhannya. Dibuktikan dengan hijrah dan jihad.
“Adapoen jang kami maksoedkan dengan Revolusi Pribadi itoe ialah peroebahan diri, peroebahan sifat dan thabi’at, peroebahan himmah dan semangat, peroebahan kehendak dan tjita-tjita, tegasnja: perobahan djiwa, peroebahan manoesia dalam erti ma’nawy dan ma’any, dlohir dan bathin.Soenggoehpoen hal ini (Revolusi Pribadi), jang kemoedian bila soedah merata, akan meroepakan “Revolusi Ra’jat”, djarang sekali diseboet-seboet orang, tapi dalam pandangan dan pendapat kami, tidak koerang pentingnja dibanding dengan Revolusi Nasional dan Revolusi Sosial. Lebih-lebih lagi, karena Revolusi Ra’jat itoe mengenai dasar-dasar dan sendi-sendinja masjarakat dan chalajak ramai serta toelang-poeng-goeng pemerintahan negeri. Djaoehkan dan enjahkanlan sifat kolonialisme (sisa Belanda-isme) dan sifat fascisme (sisa Djepang-isme), dari diri kita, dari toeboehnja masjarakat dan chalajak ramai! Djadikanlah diri kita masing-masing mendjadi “Djiwa Merdeka” Djiwa, jang patoet mendjadi anggauta masjarakat jang merdeka! Djiwa, jang pantas mendjadi warga daripada sesoeatoe Negara jang Merdeka!
Dalam pandangan Agama Islam, tiadalah
moengkin dibentoek djiwa merdeka, melainkan berdasarkan atas
sesoetji-soetji Iman kepada Allah dan sebersih-bersih Tauhid, sepandjang
adjaran Kitaboellah dan Soennah Rasoeloellah, Moehammad Clm. Oesaha
mengoebah diri mendjadi “djiwa merdeka” adalah kewadjiban, jang
diletakkan atas poendak tiap-tiap warga Negara, jang sadar dan insaf
akan bangsa dan tanah airnja, teroetama atas warga Negara jang menamakan
dirinja Moeslim atau Moe’min, jang telah mendapat panggilan soetji dari
Agamanja.
Sebab, djika tiap-tiap warga Negara Indonesia telah dapat mengoebah dirinja men-djadi “Djiwa Merdeka”, tegasnja : djika Revolusi Ra’jat telah berlakoe atas dirinja. Insja Allah, tertoetoeplah djalan dan kemoengkinan bagi kaki pendjadjah jang mana poen djoega mengindjak tanah air kita, djangankan mengganggoe Kedaulatan Negara kita.” [5]
Tahun baru Hijriyah adalah momentum dalam
usaha dan semangat besar manusia yang ingin mengubah diri dan
masyarakatnya yang beku, bodoh, dan biadab menjadi manusia yang maju,
sempurna, dan bersemangat. Peringatan tahun baru Hijriyah adalah bukan
soal pergantian tahun, tapi pergantian ketaatan, ketundukan, dan
penghadapan. Dari yang nonwahyu menjadi wahyu-isme karena manusia adalah
hamba. Kehancuran materialisme adalah peristiwa yang pasti terjadi.
Sejarah telah membuktikan. Bumi selalu berputar, roda selalu bergulir.
Inilah satu nilai yang sangat penting kenapa hijrah dijadikan sebagai
titik awal terbitnya fajar baru peradaban umat Islam Indonesia, fajar
baru peradaban asia, fajar baru peradaban dunia karena jika kerso maka akan kuoso, dan itu artinya mardhiko.
Salam Perubahan!”Adapoen tentang “Dar-oel-Islam”, hal ini moethlak tergantoeng kepada koernia Allah semata-mata. Tiada soeatoe mahloek, djoega bangsa manoesia jang mana poen djoega, dapat ikoet tjampoer tangan didalamnja. Hanjalah daripada adjaran Agama Islam jang soetji kita mengetahoei, bahwa tiap-tiap djalan dan oesaha jang menoedjoe ke Dar-oel-Islam, maka djalan dan oesaha itoe djoegalah jang menoedjoe kearah “Dar-oes-Salam”, alam jang dilipioeti oleh ni’mat Allah selama-lamanja. Moedah-moedahan Allah berkenan menjampaikan kita kepada tjita-tjita Islam jang soetji-moerni itoe, ialah: Dar-oel-Islam didoenia dan Dar-oes-Salam diachirat! Amin! Ja rabbal-‘alamin.”[6]
————————————————-
[1] S.M. Kartosoewirjo, Barisan Moeda, Fadjar Asia, 6 Februari 1929
[2] S.M. Kartosoewirjo, Berekor Pandjang (Pers dan Politik), Fadjar Asia, 2 Juli 1929
[3] Sikap Hidjrah PSII 2, hlm. 13
[4] Sikap Hidjrah PSII 2, hlm. 13
[5] S.M. Kartosoewirjo, Haloean Politik Islam-Bab IV Revolusi Nasional dan Revolusi Sosial, 1946
[6] S.M. Kartosoewirjo, Haloean Politik Islam-Bab VII Menoedjoe Ke Arah Dar-Oel-Islam Dan Dar-Oes-Salam, 1946
Posting Komentar